A place where you hide you're darkest sins
There's a strange kind of ambiance,
its surrounding you lure me,
towards the truth”
* Within Temptation –Deep Within
Oleh: May Rahmadi
Jumat malam itu, sepertinya adalah suatu ketika dimana saya benarbenar membutuhkan sosok apa yang disebut dengan ‘Tuhan’. Dalam duka yang luka, dalam luka yang duka, dalam duka dan luka yang tak nampak dan tak kunjung mereda, seakan tak ada yang bisa menyembuhinya selain kekuatan dari sang maha Penyelamat.
Malam itu saya merintihkan air mata. Menggugat dunia dengan linangan air mata yang lahir dari eksaminasi kenyataan terhadap apa yang pernah saya lakukan di masa lalu. Malam itu menjadi sebuah pengadilan negeri kenyataan, dimana saya adalah seorang terdakwa dengan sebangkai kasus apa yang disebut dengan percintaan. Seorang terdakwa yang mencoba bernegosiasi, dengan tangisannya yang seperti menggugat hakim sekaligus mengharap malaikat datang membawa mujizat sebagai pengacara yang mendampingi saya. Negosiasi dalam persidangan itu berlangsung alot sampai sekitar hari Sabtu jam tiga pagi. Sehingga akhirnya dunia mengatakan, bahwa seorang terdakwa yang bersalah tetaplah salah. Dan sang hakim pun terpaksa mengetuk palunya dengan menjatuhkan hukuman tetap kepada saya sambil ikut menangisi kenyataan yang begitu kejam. Hukuman yang memaksa dan mengharuskan saya seperti anjing yang harus mematuhi apa yang diinginkan majikannya. Mungkin memang itulah takdir seorang anjing. Lalu pada akhirnya, semua hukuman kepada saya membuat saya semakin tidak mengenal dan tidak mengerti apa itu sebuah arti dari sang maha arti, cinta. Kemudian, karena sebuah keharusannya, akhirnya saya pergi meninggalkan cinta. Seperti anjing yang menangis dan meniggalkan majikannya sambil berjalan membelakangi majikannya dalam keadaan mengencingi dunia.
Sekitar jam setengah empat pagi, saya tidur. Saya tidur dengan segenap kekecewaan. Hingga saya terbangun sekitar jam setengah tujuh pagi. Saya bangun dengan kekecewaan yang juga masih membekas, dengan masih menyimpan segenggam harapan tentang akan kedatangan sang Maha Penyelamat.
Namun, harapan adalah sebuah kesiasiaan. Semuanya berujung pada kekosongan yang bermimpi menjadi angka setelah nol tanpa tanda tambah (plus). Semuanya nihil seperti negosiasi di persidangan malam itu. Hingga kemudian saya tersadar. Bahwa sudah tak akan ada lagi mukjizat di dunia. Tak mungkin lagi Gabriel datang. “lantas, ngapain juga gua masih berharap dan terus menunggu datangnya mukjizat?”. Memang mujizat tak datang kepada saya. Namun, kesadaran saya telah menunjukan saya jalan munuju keberadaan sang maha Penyelamat. Sebuah keberadaan yang sedaritadi malam saya caricari. Yeah! Saya mendapatkannya! Akhirnya saya menemukannya di dalam pikiran saya sendiri. Pikiran saya yang sadar bahwa dunia tidak akan berubah hanya dengan harapan. Dan memang dunia tidak akan pernah baikbaik saja. Sehingga saya yakin bahwa saya tidak perlu berdoa jika saya ingin meludahi dunia. Mengutuk dunia! Membangun surga semau saya. Dan dengan seketika, semua duka dan luka, sedikit demi sebanyak menjadi lupa.
Saya menyadarinya. Saya menyadari bahwa kita telah saling egois. Saling bertumpu pada apa yang disebut dengan rasionalitas. Karena mungkin memang otak kitalah yang hanya mampu menunjukan posisi ideal dimana seorang kita harus berada. Tapi entah mengapa kita memiliki rasio yang sama. Rasio yang selalu saja mengarah pada satu instrumen di luar subjek. Yang berarti mengarah ke suatu objek.
Jika saya tinggal di pinggiran laut dan tidak memiliki pekerjaan, sudah pasti saya akan menjadi nelayan. Sudah pasti saya akan mencari ikan demi memperpanjang nafas saya. Karena itulah yang ideal bagi saya. Ikan itu tidak lain dan tidak bukan adalah instrumen utamanya, objek bagi saya. Padahal, belum tentu ikan itu mau menolong saya. Di sinilah titik egoisme saya ataupun kita. Tapi lupakan saja ikan! Karena ikan hanyalah ikan. Dan ikan itu hanyalah analogi saya untuk menyampaikan seseorang manusia. Tetapi pada kenyataannya, manusia bukanlah seperti ikan. Ikan bukanlah manusia yang memiliki rasio. Yang memiliki posisi ideal masing-masing. Jadi lupakan saja! Karena ini tidak berarti dengan manusia. Silahkan anda bayangkan sendiri jika ikan yang tadi adalah seorang manusia. Ya! Manusia yang memiliki rasio. Manusia yang memiliki posisi ideal masing-masing. Maka yang timbul adalah pertempuran egoisme. Egoisme yang lahir dari rasio masing-masing subjek, yang akhirnya malah memandang objek sebagai seorang ikan, seseorang yang pantas dan harus kalah pada egonya. Sehingga, terpenjaralah kebebasan masing-masing subjek (Nelayan dan manusia ikan). Karena saling melihat dunia hanya sebagai subjek-objek. Pedagang dan pembeli. Penebang hutan dan pepohonan. Hitam dan putih. Kaya dan papa. Kuat dan lemah. Dan silahkan tambahkan sendiri. Oleh karena itu, maka rasio saya yang telah menjawab pertanyaan tentang dimana posisi ideal seorang saya, ternyata telah menghantarkan saya pada penindasan bagi saya sendiri. Bagi saya dan kita!
Karena setiap orang, seharusnya setara. Tidak ada yang kuat, tidak ada yang lemah. Manusia tidak bisa dipaksakan. Manusia harus bebas. Maka, semestinya setiap manusia harus memandang dunia seperti subjek-subjek. Tidak lagi subjek-objek. Karena sang objek, memiliki posisi idealnya masing-masing yang seringkali berlawanan dengan posisi ideal kita. Dan jika kita terus berfikiran subjek-objek, maka bersiaplah pada penindasan, pengekangan, pemenjaraan yang dilakukan oleh rasio kita sendiri! Egoisme kita sendiri.
Mari kita ganti analogi ikan dan nelayan itu menjadi saya dan engkau. Jika saya sedang menasihatimu karena kamu telah melakukan kesalahan besar, maka adalah hak dan kebebasan kamu untuk menangkap nasihat saya. Saya tidak memaksa kamu untuk menjalani nasihat saya. Dan terserah kamu saja mau mengikuti nasihat saya atau tidak. Jika kamu tidak mengikuti nasihat saya, maka saya tidak akan merasa ditindas oleh apa yang telah saya lakukan, oleh rasio saya. Karena saya memandang kamu bukan sebagai objek yang harus tunduk dengan perkataan saya. Semuanya akan baik-baik saja. Inilah subjek-subjek.
Tetapi, jika saya mengharuskanmu untuk mengikuti nasihat saya yang artinya kamu telah saya jadikan sebagai objek, maka saya akan terasa ditindas dengan egoisme saya sendiri (dengan rasionalitas saya sendiri) jika kamu tidak mengikuti nasihat saya. Inilah subjek-objek.
Bayangkan jika seluruh manusia berfikir subjek-subjek! Bayangkan saja… cukup dibayangkan saja. Karena memang itu hanyalah utopia. Yang tetapi pantas dilakukan, meskipun sulit dalam hal percintaan.
Posesif (Inggris: Possessive), yang berasal dari kata Possess, memiliki arti sebagai mempunyai, memiliki, menguasai. Dan dengan ditambah akhiran ‘if’ yang berarti menunjukan kata sifat, maka posesif bisa disebut adalah rasa ingin memiliki, mempunyai, menguasai sesuatu yang dianggap baik/ideal oleh pikirannya (rasio). Inilah bentuk keegoisan dari diri seorang manusia. Keegoisan yang lahir dari pikiran manusia yang mungkin sudah pasti menganggap apa yang diinginkannya adalah yang terbaik/ideal baginya. Egoisme (inggris: egoism), berarti sifat mementingkan diri sendiri. Setiap manusia memiliki keinginan, dan saya yakin setiap manusia menginginkan keinginannya terkabulkan/tercapai. Maka keinginan telah menjadi egoisme.
Jika ada dua manusia yang saling berhubungan dekat, maka wajar saja terjadi perselisihan karena keinginan/egoisme/bentuk idealnya masing-masing tidak sama. Sehingga terjadilah pertempuran egoisme. Dan yang terasakan hanyalah kerisihan akan suatu kondisi yang kacau/tidak damai seperti itu. Oleh karena itu, ternyata “I think therefore I am”-nya (Rene Descartes) telah atau akan membawa kita pada kondisi yang akan menyiksa kita sendiri jika kita menjadi seorang rasio instrumental. Rasio yang membutuhkan alat.
Maret - April 2010.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Catatan Luka





































