Film Indonesia Melawan Pornografi
Oleh: Suguh Kurniawan
Kebangkitan film Indonesia dalam dilema. Ketika tuntutan moral memacu para sineas untuk menghasilkan karya berkualitas, muncul film-film ‘panas’ seperti pada era 80an di mana unsur pornografi tersisip di dalamnya. Tak ayal tayangan bergenre esek esek ini mendulang kontroversi. Kendati kecaman dan pencekalan makin luas ternyata proses produksinya terus berjalan. Apakah hal tersebut berkaitan erat dengan pemenuhan selera pasar atau kebebalan oknum penggiat sinema yang hanya mengkultuskan materi?
Sama Dulu Sama Sekarang
"Masalahnya
yang terjadi di Indonesia saat ini adalah banyak produser atau rumah
produksi yang bisa pesan tanggal penayangan filmnya ke bioskop jaringan
di Indonesia, sementara ketika dia daftar filmnya itu belum jadi," papar
Nia Dinata Produser Kalyana Shira Films (KapanLagi.com/27/9/08). Hal
ini serupa dengan nasib film nasional pada era 80an. Saat itu Peraturan
pemerintah mensyaratkan setiap empat film import harus diimbangi satu
film lokal. Menteri Penerangan Harmoko menargetkan 200 film dalam
negeri dapat dirilis meski yang terpenuhi hanya 100 judul saja (Kick
Andy/hal 135-141).
Karena pengerjaannya yang cerderung
terburu-buru membuat para sineas pada kedua era tersebut berkarya asal
jadi. Film ‘panas’ yang menampilkan adegan seronokpun dijadikan jalan
pintas guna mengejar target dan balik modal. Alih-alih mendapat
apresiasi positif, yang ada ialah lahirnya film kaya kuantintas tapi
miskin kualitas. Bedanya Kalau dulu muatan pornografi sebagian besar
dikemas dalam film drama seperti kenikmatan tabu, jago jago bayaran dan
perempuan malam, kini sutradara menyisipkan dalam film bergenre horor
atau popular teenlit ala american pie, seperti kawin kontrak, Suster
Keramas atau Hantu Puncak Datang Bulan.
Sementara
mayoritas penikmat film lokal sendiri tidaklah bodoh. Kendati disuguhi
tayangan bertendensi cabul, mereka dengan cerdas dan selektif memilih
karya yang bukan hanya dapat menjadi tontonan tetapi juga tuntunan.
Pada era 80an film garapan Sumanjaya dan Teguh Karya terbukti bisa laku
di pasar. Sementara saat ini film dengan muatan moral dan religi makin
diminati. Sebagai contoh dari jumlah penonton Laskar Pelangi pada 2008
berhasil menyedot 4,6 juta angka, Ayat-ayat Cinta pada 2007 dengan
raihan 3,6 Juta dan Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 pada 2009 mencapai
3,1 juta (wikipedia.com). Adapun film-film ‘panas’ baik dulu atau
sekarang, kalau menggunakan metafora sepakbola ‘selalu terpuruk di
klasemen bawah bahkan terdegradasi secara mengenaskan’.
Film garing kering makna dapat mengancam eksistensi industri ‘gambar idoep’ dalam negeri. Hal ini diamini oleh Mira lesmana produser ‘laskar pelangi’. "Ketika film yang tidak berkualitas muncul, penonton akan meninggalkan film Indonesia dan kami akan menjadi sulit," katanya (detik.com/21/02/10). Karenanya Para sineas harus berfikir dua kali sebelum berkarya bila tak ingin menjadi bagian dari penyebab keterpurukan film Nasional.
Film adalah Kebudayaan
Guna mengawal kebangkitan film Indonesia dibutuhkan orang orang yang kompeten. Kompetensi tidak cukup diukur dengan label sutradara, kameraman, produser dan kru jempolan. Hal paling penting adalah munculnya keinsyafan berfikir bahwa film adalah salah satu elemen penting yang menyertai perjalanan suatu bangsa. Tantangannya kemudian bukan hanya soal mencari untung tapi bagaimana film dapat menghegemoni dan memengaruhi para penonton dengan suguhan edukatif, bermoral dan bertanggung jawab dengan tidak menghilangkan fungsi primernya untuk menghibur.
Ke depan hendaknya insan perfilman dan pemerintah dapat bersatu. Sudah saatnya para sineas berani merambah genre baru di luar horor dan popular teenlit ala american pie yang cabul itu. Iran dapat dijadikan acuan. "Darbareye Elly (About Elly)" film besutan Asghar Farhadi sebagai contoh, berhasil menyabet dua penghargaan dalam Festival Film Asia Pasifik (Asia Pacific Screen Awards/APSA) 2009 bukan karena kepornoannya tapi keunikan temanya. Selain itu film film keluaran Show box production (Korea selatan) seperti bare foot gibong, The host atau beauty 200 pounds patut ditiru. Karena dengan cerita bertema sosial yang mudah dicerna, penonton dapat tercerahkan sisi kemanusiaannya dan mendapat hikmah setelah pulang dari bioskop.
Sementara bagi pemerintah, cinta film nasional tidak cukup ditandai dengan berbondong bondongnya birokrat ke bioskop dan setelah itu bubar. Tapi merekapun berkewajiban mendanai para sineas dalam menghasilkan karya. Budget produksi yang selangit hendaknya disokong oleh subsidi negara. Seperti halnya tari pendet dan reog, filmpun dapat menjadi budaya bangsa bila digarap secara profesional. Mendukung perkembangannya secara real adalah bukti bahwa pemerintah tidak sekedar menjadi ‘tim hore’ atau ‘audience terima beres’, tapi benar benar menghendaki kebudayaan Indonesia menggurita secara global.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
FILM INDONESIA MELAWAN PORNOGRAFI






































