Bukan Belalang Tempur
Oleh: Nurfita Kusuma Dewi
Seekor belalang menari-nari dan melompat-lompat. Seorang anak kecil memperhatikannya dengan senang. Sang belalang terus saja melompat dan melompat. Anak itu pun berkata dengan girang “Belalang pintar. Kau belalang yang pintar melompat.” Meski sang belalang tak mengerti bahasa anak kecil tersebut, tapi belalang tersebut tahu persis bahwa ia lah pusat perhatian sang majikan.
Di dalam kotak berukuran 20x10 cm itu lah sang belalang dipelihara. Di dalam kotak hunian yang mungil itulah, semua kebutuhannya dipenuhi dengan baik oleh sang majikan. Belalang yang beruntung, karena ia tak perlu terbang jauh untuk mencari makan. Tak pernah kelaparan. Jauh dari ancaman pemangsa belalang. Yang perlu ia lakukan setiap hari adalah melompat dan melompat. Menari dan menari.
Sang majikan rutin mengunjungi sang belalang guna melihat lompatannya. Kemudian sang majikan akan berkata kepadanya, “Belalang pintar. Kau belalang yang pintar melompat.” Suatu ketika, anak kecil itu tengah sibuk dengan mainannya yang lain, sang belalang pun sibuk mencari perhatian sang majikan. Mulai dari menari ke depan dan ke belakang, melompat ke kanan dan kiri, hingga berjingkrak-jingkrak di dalam kotak. Saat majikannya teringat kembali kepada sang belalang, maka ia pun mendatanginya kemudian berkata “Belalang pintar. Kau belalang yang pintar melompat.”
Entah karena lupa atau terburu-buru, di suatu sore kotak hunian sang belalang tidak ditutup kembali oleh sang majikan. Setelah memberi makan sang belalang, anak kecil itu berlari begitu saja mendekati seorang bapak yang tengah mendorong sebuah gerobak bertuliskan “es kriem tong tong”.
Menyadari atap kotak huniannya terbuka, sang belalang pun celingukan. Rasa ragu dalam hatinya ternyata kalah oleh rasa penasaran akan dunia luar. Angin semilir dari jendela membawa harum rumput dan wangi bunga dandelion. Sesuatu yang ia rindu namun hampir terlupa oleh waktu. Kemudian, HAP! Tanpa disadari oleh sang belalang, ia baru saja melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Kini ia sudah berada di luar kotak. Dan itu berarti, ia telah berhasil melompat lebih tinggi dari ketinggian sebelum-sebelumnya.
Kini giliran sang belalang yang merasa kegirangan. Tak pernah terpikirkan olehnya, bahwa ia mampu melompat lebih tinggi. Selama ini lompatannya terhalang oleh atap kotak hunian. Berusaha melompat lebih tinggi berarti membenturkan kepalanya pada papan kayu itu.
Sang belalang terus saja melompat-lompat. Lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Kali ini ia bukan hanya ada di luar kotak. Ia bahkan sudah berada di luar rumah sang majikan. Bukan. Bukan. Lebih jauh lagi malah. Sang belalang tak tahu dengan pasti di mana kini ia berada. Seberapa jauh ia dari rumah sang majikan. Yang ia tahu hanyalah melompat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Sungguh menyenangkan rasanya bisa melompat lebih tinggi, tanpa batas. Lama ia menikmati kehebatan lompatannya, hingga ia merasa bahwa ia adalah belalang pemilik lompatan tertinggi di dunia! Gyaboooooooo..!!!
Di sebuah padang rumput yang luas, sang belalang bertemu dengan segerombolan species yang sama dengan dirinya. Segerombolan belalang yang juga tengah melompat-lompat dari satu pijakan ke pijakan yang lain. Namun kali ini ia terdiam. Tak lagi girang, justru heran. Ia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Tak ada yang aneh memang dengan belalang-belalang yang melompat-lompat itu. Toh kegemaran species mereka memang sama, yakni melompat-lompat. Tapi yang membuatnya heran adalah ketinggian lompatannya. Ketika ia sempat berpikir bahwa ia lah belalang pemilik lompatan tertinggi di dunia, ternyata itu salah besar. Lompatan yang ia lakukan tak lebih dari setengah ketinggian lompatan segerombolan belalang-belalang itu.
Melihat seekor belalang terdiam dengan keheranan. Seekor belalang dari gerombolan belalang itu mendekati sang belalang.
“Apa yang kau lihat?” tanya seekor belalang.
“Aku melihat kalian melompat. Bagaimana kalian bisa melompat setinggi itu?” tanya sang belalang.
Mendengar pertanyaan sang belalang, segerombolan belalang itu pun tertawa terbahak-bahak. Kini giliran mereka yang heran dengan pertanyaan sang belalang.
“Apa maksudmu?” tanya seekor belalang dari gerombolan belalang itu.
“Kau heran dengan lompatan seperti ini? Seperti inilah kami biasa melompat setiap harinya. Melompat setinggi ini.” tambahnya sambil melompat dengan ketinggian yang tak pernah terbayangkan oleh sang belalang.
***
Kondisi aman dan nyaman terkadang memang melenakan. Belalang yang hidup dalam comfort zone merasa bahwa apa yang dimilikinya sudahlah cukup. Tak perlu lah bekerja atau berusaha lebih keras lagi. Toh, sang majikan sudah memberikan semua yang ia butuhkan, baik makanan maupun keamanan. Pun rajin memujinya. Rutin mendatanginya dan berkata, “Belalang pintar. Kau belalang yang pintar melompat.” Pujian yang indah namun menjerumuskan. Membuat sang belalang terlena dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.
Suatu kali dalam kehidupan, Allah akan menghadapkan hambaNya pada pilihan-pilihan hidup. Entah dengan mengambil kemapanan yang telah dimiliki, maupun hambaNya secara sadar meninggalkan kemapanan itu sendiri. Kemapanan pada dasarnya juga merupakan sebuah ujian. Apakah kita akan tetap mempertahankannya atau meninggalkannya untuk menjadi hambaNya yang lebih baik.
Dalam kisah, sang belalang memilih untuk meninggalkan kemapanan yang dimilikinya. Walau sebenarnya, ia punya pilihan untuk tetap tinggal di dalam kotak dan hidup dengan semua kemapanan yang ada. Namun rasa penasaran yang dimiliki terkadang memang lebih besar dari logika. Sang belalang pun pergi meninggalkan comfort zone-nya.
Apa yang kemudian terjadi ketika memutuskan meninggalkan comfort zone? Bisa jadi sebuah kebahagiaan. Namun biasanya itu tidak lama. Yang lebih banyak terjadi adalah kehidupan yang “keras”. Kita biasanya akan tampak “terpuruk” dan “tidak hebat”. Ditertawakan, diejek, dan dikesampingkan. Seolah menjadi makhluk “nomor dua”, “nomor tiga”, bahkan tak berprestasi. Apa yang telah diraih selama ini ternyata tidak ada apa-apanya dibanding apa yang sudah dilakukan oleh yang lain. Dan parahnya lagi, bagi mereka, sesuatu yang kita anggap sebuah “prestasi” itu tidak ada apa-apanya dengan apa yang telah mereka lakukan. Bahkan “prestasi” itu dianggap sebagai sebuah hal yang biasa. Sebuah kebiasaan.
Dan di sinilah, sang belalang kemudian dihadapkan kembali pada pilihan-pilihan hidup. Apakah akan menarik diri dari “persaingan” kemudian kembali pada kotak huniannya yang nyaman? Atau kah memutuskan untuk belajar “melompat lebih tinggi” bersama gerombolan belalang-belalang yang lain? Walau pun di awalnya, sang belalang ditertawakan, diejek, dan dikesampingkan.
Nah, pilihan-pilihan hidup sang belalang ini pula yang kadang sering kita hadapi. Defending or struggling? Meninggalkan comfort zone memang berat. Karena itu berarti kita telah siap untuk belajar dan berjuang. Bersiap untuk tampak “tidak hebat” ketika disandingkan dengan yang lain. Bersiap menyediakan hati yang lapang untuk menjadi “makhluk nomer sekian”.
Di luar pilihan mana yang akan kita ambil, defending or struggling, sejatinya hanya orang-orang yang senantiasa bergerak, siap dengan perubahan, dan yang waspadalah yang mampu selamat mengarungi kehidupan yang bervariasi ini. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dalam hidup ini sangat diperlukan kekuatan mental, pantang menyerah, ikhtiar, dan terus ikhtiar sehingga Allah membukakan jalan terbaik.
“Bekerjalah terhadap apa saja yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan Allah, dan janganlah lemah. Jika sesuatu terjadi padamu, jangan katakan, “Seandainya aku melakukan hal ini dan hal itu, pasti ini, namun katakanlah, “Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki, maka Dia kerjakan.” Karena kata seandainya itu membuka pekerjaan setan.” (HR Muslim)
So, make your own choice!
Keep fighting and hope you all d’best!^^ (blog.akusukamenulis)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Bukan Belalang Tempur







































