<< Artikel Film dan Generasi Bangsa  >>

Film dan Generasi Bangsa

E-mail Cetak PDF
Film dan Generasi Bangsa
Oleh: Muhammad Rasyid Ridho

 

            Ketika tekhnologi telah menguasai semua lini kehidupan, akan terlihat kehidupan kita mudah karena lahirnya komponen-komponen yang serba instan. Mulai dari kecanggihan alat-alat modern hingga makanan pun akan serba instan. Tak luput dari itu juga lahirnya film-film yang menggambarkan kecanggihan dan kemodernan zaman. Maka manusia pun dimanjakan dengan menonton film-film imajinasi tingkat tinggi yang   serba canggih.

            Jadilah film-film menjadi kesukaan remaja. Kesukaan remaja menonton film sangatlah tinggi. Tak lain film-film barat yang mereka gandrungi. Dan tak kalah juga film-film lokal karya anak bangsa cukup mereka minati. Dari sini ada beberapa faktor mengapa remaja suka menonton film-film itu, karena memang sudah hobi mereka nonton melulu, pagi, siang, malem nonton sampe lupa waktu, karena film yang di tonton adalah film yang menampilkan kecanggihan zaman dan film yang menceritakan imajinasi tingkat tinggi sutradara pembuat film itu, dan ada juga faktor ini cukup menggelikan hati kita, yaitu film itu bermuatan pornografi dan pornoaksi.

            Sangat disayangkan sekali, faktor terakhir tadi adalah faktor yang menyebabkan remaja kita suka nonton  film. Maka hal inilah yang menyebabkan bobroknya moral anak bangsa. Mungkin, film-film barat yang menampilkan tayangan berbau porno, adalah hal yang biasa. Tapi, ini yang sangat memprihatinkan, yaitu sutradara-sutradara lokalpun latah tergiur dengan hasil yang didapatkan dari film-film seperti itu. Memang sangat jelaslah film-film seperti ini yang laku di pasaran.

Lihat saja film-film lokal yang bertengger di bioskop-bioskop di kota besar, mulai dari quicke express, extra large, mas suka masukin aja, ku tunggu jandamu, kawin kontrak sekuel 1,2, dan lagi dan masih banyak yang lainnya. Dari judulnya saja sudah cukup berani. Belum lagi isinya,  membuat hati meringis. Memang film-film ini, adalah film-film komedi. Tapi ternyata komedi saja tak cukup, sutradara pembuat film ini pesimis lalu ditambahkan olehnya adegan-adegan bermuatan porno, maka larislah film-film itu di setiap bioskop-bioskop, karena banyak penonton yang suka. Orang indonesia memang sukanya yang seperti itu.

Sebenarnya menonton film itu sama dengan membaca buku. Setelah membaca  atau menontonnya, harus ada apresiasi pembaca atau penonton. Penonton tidak boleh menelan mentah-mentah begitu saja apa yang ia tonton. Tapi harus ada kritik dan saran.

Misalnya, film kawin kontrak. Film ini laku di pasaran hingga selalu dibuat sekuelnya, dari satu, dua, lagi dan mungkin empat dan lima akan dibuat untuk menyusul kesuksesan sekuel sebelumnya. Film laris ini bercerita tentang kawin kontrak, yang jelas-jelas kontra dengan nilai –nilai agama, khususnya agama islam. Mengapa para penonton diam saja dan malah mendukung film ini untuk dibuat sekuelnya. Kita hanya diam berpangku tangan. Belum lagi film-film yang dari judulnya saja porno. Misalnya, film Mas Suka Masukin Saja, saya heran bagaimana kerja badan penyensor film-film yang akan dirilis ke permukaan.

Sungguh perfilman Indonesia sangatlah memprihatinkan. Undang-undang perfilman sudah ada, Undang-undang pornografi dan pornoaksi sudah rampung juga, siapa yang salah?

Intropeksi diri sepertinya perlu bagi komponen negeri  ini, khususnya kita pewaris dan generasi bangsa. Apa yang sudah kita berikan kepada negara dan bangsa? Mungkin dengan kita mengapresiasikan, mengkritiki, dan memberi saran untuk film-film karya anak bangsa, akan ada perbaikan dalam setiap pembuatannya. Semoga setiap produser, sutradara, dan orang-orang yang ada di lembaga pensesoran film Indonesia, lebih sadar lagi untuk memberikan yang terbaik untuk bangsa, negara, dan agama. Tidak hanya melihat hasil dari yang ia kerjakan, tetapi berkarya dan harus berarti. Semoga. Amien.

Siang hari di Syurgaku, 28 April 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Image
Joomlart