<< Artikel Selamat Hari Raya Lebaran  >>

Selamat Hari Raya Lebaran

E-mail Cetak PDF
Selamat Hari Raya Lebaran
Oleh: Slamet Wiyono
 
Satu bulan penuh umat Islam menjalankan puasa Ramadhan, rasanya semuanya seperti singkat saja terlalui.  Jerih lelah menahan dahaga dan lapar seolah lekas terobati dengan datangnya lebaran yang kan segera datang.
 

Saat-saat seperti ini seolah menarik setiap orang tuk berlekas pulang menuju tempat di mana ia dulu dilahirkan.   Lebaran segera datang pulang mudik pun serasa seperti hutang yang harus segera dibayarkan.  Mudik lagi, macet lagi, berdesak-desakkan lagi, cape lagi, akhirnya jadi lega setelah bertemu keluarga.  Uhh... rasanya seperti meneguk segelas air di tengah gurun pasir yang teramat panas.  “Minal Aidin Wal Faizin”- mohon maaf lahir dan batin.  Entah dia seorang Muslim, entah agama apa pun dia, semua bergabung dalam suka cita merayakan hari raya.  Walaupun bagi sebagian orang hari raya tak lebih dari sekedar budaya, namun nyatanya memiliki kekuatan yang sangat bermakna, guna menjalin tali silaturahmi  antar keluarga besar dan umat beragama. 

            Lebaran ternyata tak sekedar sebuh upacara agama, akan tetapi telah menjadi sebuah budaya yang tak hanya bermakna bagi umat muslim, namun juga bagi umat yang lain.  Karena itu mengucapkan selamat hari raya kepada mereka yang merayakan tentunya bukanlah barang najis yang diharamkan untuk dilakukan.  Toh dalam tak pernah terdengar sekalipun “fatwa” yang mengharapkan mengucapkan selamat hari raya lebaran.  Tak sekedar mengucapkan selamat hari raya, momen yang bagus seperti ini juga pas untuk mengucap maaf.  Bukan hanya ucapan bibir semata sekedar sebagai lips service, tapi juga berasal dari dalam lubuk hati yang penuh dengan keihklasan dan keterbukaan.  Ah... indahnya sebuah hari raya, tak peduli itu milik siapa, tak dipusingkan milik umat mana, tapi tatkala semua dapat menikmati maka tak kan ada lagi rasa curiga dan prasangka tak wajar ke luar dari diri. 

            Meski lebaran bukanlah hari raya milik umat beragama lain, namun lebaran ternyata – baik secara langsung maupun tidak – telah  memberi dampak yang sangat terasa, terhadap kita.  Lebaran bukan monopoli umat islam kok.  Sebut saja satu contonya tentang fenomena mudik yang telah memaksa entah karyawan, atau pembatu kita pulang kampung.  Dengan mereka pulang ke kampung – meski  hanya dalam hitungan hari, tapi mampu memberikan dampak yang luar biasa.  Pekerjaan kasar yang selama ini mungkin tak pernah kita kerjakan, sekarang dengan bercururan keringat dan nafas terengah kembali kita kerjakan dengan tangan sendiri.  Apalah daya.  Bagi mereka yang “berduit”, mungkin akan lebih memilih tinggal di hotel daripada harus mengerjakan pekerjaan rumah yang tak hanya menyita waktu, tapi juga menguras tenaga. 

Dengan begini, setiap tahun kita disadarkan betapa penting artinya seorang pembantu rumah tangga, atau karyawan, bagi kita.   Pembantu tak sekedar “buruh ngepel” atau “buruh cuci” kita, karyawan, ternyata tak sekedar seorang “jongos” atau babu yang kalaupun kita suruh menjeburkan diri ke kali pun akan ikut.  Sebagai seorang Kristen, menghargai umat yang lain adalah satu kewajiban yang harus dilakukan.  Bagaimana caranya? Tentunya terserah anda.  “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”  Jikalau lebaran merupakan  satu hari di mana umat muslim berbahagia dan bersuka-cita, adakah alasan kita untuk bersedih dan menangis, hanya karena mereka bukan bagian dari kita? Selamat bergembira dan membagi kegembiraan.  Slamet Wiyono

Joomlart